Optimal lewat Inkubator Bisnis, Omzet Pelaku Industri Kreatif Digital Capai Rp 100 Juta

Hai Sahabat GuruIndonesia.ID tahukah kamu bahwa kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) terus meningkat. Tiga subsektor penyumbang terbesar di antaranya industri kuliner sebesar 41,69%, disusul industri fesyen (18,15%), dan industri kriya (15,70%).

Di era digital ini, industri kreatif juga menelurkan para wirausaha yg berfokus pada teknologi atau yg disebut sebagai technopreneur. Masa bonus demografi yang akan dialami Indonesia berpotensi mengembangkan bisnis digital oleh 130 juta jiwa usia produktif.

Berbagai upaya strategis gencar dilakukan pemerintah untuk mendorong industri kreatif digital. Tentunya ini merupakan #collaborativeinnovation dan sinergi antara pemerintah, civitas akademika, dan wirausahawan pemula (start up).

Selain dibekali kompetensi teknis, para wirausaha juga dikembangkan melalui incubator bisnis. Salah satu yang konsisten adalah Bali Creative Industry Center (BCIC) BDI Denpasar dibawah Kementerian Perindustrian RI.

Lalu Apa saja skill yang dibutuhkan di Industri Kreatif Digital Seperti sekarang?

Baca Juga : Wow, Indonesia Meraih Peringkat Pertama Wisata Halal Dunia

“Setiap tahun, Inbis TohpaTI menghasilkan sekitar sembilan hingga sebelas tim Startup di bidang animasi, design, dan software developer. Beberapa alumni ada yang sudah mendapat investasi hingga Rp 100 juta. Omzet yang didapat bervariasi, mulai dari 10 hingga 100 juta rupiah setiap bulannya,” imbuh Haris.

Kompetensi teknis seperti Programming, Data Science, Cyber Security, System Integrator, serta Desain & Pemodelan animasi diyakini menjadi modal utama para pelaku industri kreatif digital. “Kami juga ingin terus meningkatkan motivasi dan bakat kepemimpinan para generasi muda agar siap menghadapi era digital di industri 4.0,” tandas Haris.

Dikutip dari berbagai sumber.